Online

Tampilkan postingan dengan label Tempat Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tempat Wisata. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Desember 2012

Mengintip Angkernya Gunung Salak

Misteri Gunung Salak dan Rahasia angker Gunung Salak sering kita dengar. Banyak kejadian nyawa hilang sampe Pesawat jatuh di Gunung salak. Bagi masyarakat Sunda yang tinggal di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Gunung Salak memiliki makna tersendiri.

Gunung salak ini diyakini oleh masyarakat sekitar sebagai tempat bersemayam dan turunnya para batara atau dewa dari kahyangan. Untuk itu, masyarakat Sunda klasik sering menyebut gunung ini sebagai kabuyutan. Peran gunung sebagai kabuyut dapat dilihat dari cerita-cerita rakyat dan tuturan para pini sepuh.

Oleh masyarakat adat yang tinggal di Desa Giri Jaya,  Gunung Salak merupakan kawasan yang penting karena menjadi asal usul daerah dan kehidupan mereka. Gunung Salak juga menyimpan banyak misteri kehidupan, di mana masyarakat meyakini bahwa siapa saja yang dapat menemukan atau mengerti rahasia di dalamnya akan menjadi manusia arif.

Pendapat mereka didasarkan atas tafsiran mengenai asal kata "Salak" yang menjadi nama gunung ini. Menurut masyarakat setempat, nama "Salak" berasal dari "Siloka" dan "Salaka" yang berarti "simbol atau tanda dan juga asal-usul".

Masyarakat adat ini setiap tahunnya sering menggelar acara-acara seremonial tradisi, seperti seren taun, muludan, dan lain-lain. Ritual digelar di Gunung Salak karena gunung ini sangat dihormat oleh masyarakat setempat.

Gunung Salak juga dikenal sebagai destinasi wisata pendakian oleh para wisatawan pencinta alam. Gunung ini memang tidak setinggi Gunung Gede-Pangrango yang juga ada di Jawa Barat. Namun karena mitos dan keangkerannya, gunung ini menjadi sulit untuk didaki.

Gunung Salak dapat didaki dari beberapa jalur, yakni jalur Wana Wisata Cangkuang Kecamatan Cidahu Kabupaten Sukabumi, Wana Wisata Curug Pilung, Cimelati, Pasir Rengit, dan Ciawi. Belum lagi jalur-jalur tidak resmi yang dibuka para pendaki ataupun masyarakat sekitar.

Banyaknya jalur menuju puncak Gunung Salak dan saling bersimpangan tentu membingungkan para pendaki. Banyak di antaranya yang kemudian tersasar dan menghilang.

Banyak jalur pendakian, maka banyak pula mitos atau kisah yang menyelimuti Gunung Salak. Selain itu, kawasan ini juga dianggap suci oleh masyarakat Sunda wiwitan karena dianggap sebagai tempat terakhir kemunculan Prabu Siliwangi.

Banyak pendaki mengaku mendengar gamelan atau melihat penampakan saat mendaki Gunung Salak. Karena itu, disarankan untuk tidak mengucapkan kata-kata kotor atau kasar selama perjalanan untuk menghindari gangguan mahluk halus yang menjadi penunggu, menurut kepercayaan penduduk setempat.

Tidak sedikit pendaki yang ditemukan tewas di Gunung Salak, termasuk beberapa pesawat lain sebelum Sukhoi Superjet-100. Mungkin inilah yang membuat suasana Gunung Salak terasa angker.

Pengamat penerbangan sekaligus pilot pesawat nonkomersial, Alvin Lie, mengatakan di daerah Gunung Salak sering ada kabut. Cuaca buruk ini bisa menyebabkan turbulensi sehingga pesawat tidak stabil. Menurut dia, gunung di perbatasan Bogor-Sukabumi ini rawan untuk pesawat ukuran kecil.

Berada di ketinggian 2.211 meter, kawasan Gunung Salak dikenal sebagai lokasi jatuhnya sejumlah pesawat. Berikut ini datanya:

1. 10 Oktober 2002
Pesawat Trike bermesin PKS 098 jatuh di Lido, Bogor. Korban : 1 tewas.

2. 29 Oktober 2003
Helikopter Sikorsky S-58T Twinpac TNI AU jatuh di Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor. Korban : 7 tewas.

3. 15 April 2004
Pesawat paralayang Red Baron GT 500 milik Lido Aero Sport jatuh di Desa Wates Jaya, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Korban: 2 tewas.

4. 20 Juni 2004
Pesawat Cessna 185 Skywagon jatuh di Danau Lido, di Cijeruk, Bogor. Korban : 5 tewas.

5. Juni 2008
Pesawat Casa 212 TNI AU jatuh di Gunung Salak di ketinggian 4.200 kaki dari permukaan laut. Korban : 18 tewas.

6. 30 April 2009
Pesawat latih Donner milik Pusat Pelatihan Penerbangan Curug jatuh di Kampung Cibunar, Desa Tenjo, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor. 
Korban : 3 tewas.

Apakah kejatuhan Pesawat Sukhoi ini sama dengan medan magnetis di Segitiga Gunung Halimun-Salak-Gede ? Kisah serupa banyak kita dengar seperti medan magnetis yang ada di segitiga bermuda dan segitiga formosa ? Wallahu’alam……. 

Selasa, 20 November 2012

Kawah Putih


Pemandangan Kawah putih 
Wilayah Kabupaten Bandung memiliki banyak tempat wisata yang menawarkan pemandangan yang indah beserta legenda-legenda yang menarik. Salah satunya adalah Kecamatan Ciwidey yang berada di selatan Kabupaten Bandung. Di kawasan ini terdapat objek wisata menarik yaitu Kawah Putih.
Kawah Putih adalah sebuah danau kawah dari Gunung Patuha dengan ketinggian 2.434 meter di atas permukaan laut dengan suhu antara 8-22°C. Di puncak Gunung Patuha itulah terdapat Kawah Saat, saat berarti surut dalam Bahasa Sunda, yang berada di bagian barat dan di bawahnya Kawah Putih dengan ketinggian 2.194 meter di atas permukaan laut. Kedua kawah itu terbentuk akibat letusan yang terjadi pada sekitar abad X dan XII silam.Kawah Putih ini terletak sekitar 46 km dari Kota Bandung atau 35 km dari ibukota Kabupaten Bandung, Soreang, menuju Ciwidey.

Legenda Kawah Putih
Gunung Patuha konon berasal dari nama Pak Tua atau ”Patua”. Masyarakat setempat sering menyebutnya dengan Gunung Sepuh.Dahulu masyarakat setempat menganggap kawasan Gunung Patuha dan Kawah Putih ini sebagai daerah yang angker, tidak seorang pun yang berani menjamah atau menuju ke sana. Konon karena angkernya, burung pun yang terbang melintas di atas kawah akan mati.
 
Danau Kawah Putih
Misteri keindahan danau Kawah Putih baru terungkap pada tahun 1837 oleh seorang peneliti botanis Belanda kelahiran Jerman, Dr. Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864) yang melakukan penelitian di kawasan ini. Sebagai seorang ilmuwan, Junghuhn tidak mempercayai begitu saja cerita masyarakat setempat. Saat ia melakukan perjalanan penelitiannya menembus hutan belantara Gunung Patuha, akhirnya ia menemukan sebuah danau kawah yang indah. Sebagaimana halnya sebuah kawah gunung, dari dalam danau keluar semburan aliran lava belerang beserta gas dan baunya yang menusuk hidung. Dari hal tersebut terungkap bahwa kandungan belerang yang sangat tinggi itulah yang menyebabkan burung enggan untuk terbang melintas di atas permukaan danau Kawah Putih.

Kawah Putih 1856, Java-Album, Franz Wilhelm Junghuhn
Karena kandungan belerang di danau kawah tersebut sangat tinggi, pada zaman pemerintahan Belanda sempat dibangun pabrik belerang dengan nama Zwavel Ontgining ‘Kawah Putih’. Kemudian pada zaman Jepang, usaha tersebut dilanjutkan dengan nama Kawah Putih Kenzanka Gokoya Ciwidey yang langsung berada di bawah penguasaan militer Jepang.

Tambang belerang peninggalan jaman Belanda & Jepang (foto ©arie saksono)
Di sekitar kawasan Kawah Putih terdapat beberapa makam leluhur, antara lain makam Eyang Jaga Satru, Eyang Rongga Sadena, Eyang Camat, Eyang Ngabai, Eyang Barabak, Eyang Baskom, dan Eyang Jambrong. Salah satu puncak Gunung Patuha yakni Puncak Kapuk, konon merupakan tempat pertemuan para leluhur yang dipimpin oleh Eyang Jaga Satru. Konon, di tempat ini terkadang secara gaib terlihat sekumpulan domba berbulu putih yang oleh masyarakat disebut domba lukutan.

Sesepuh dan Juru kunci Kawah Putih hadir pada Festival Kawah Putih 2010
Danau Kawah Putih memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Air di danau kawahnya  dapat berubah warna, kadangkala berwarna hijau apel kebiru-biruan bila terik matahari dan cuaca terang, terkadang pula berwarna coklat susu. Paling sering terlihat airnya berwarna putih disertai kabut tebal di atas permukaan kawah. Selain permukaan kawah yang berwarna putih, pasir dan bebatuan di sekitarnya pun didominasi warna putih, oleh karena itu kawah tersebut dinamakan Kawah Putih.

Air danau Kawah Putih yang dapat berubah warna
Menuju ke Kawah Putih
Sejak tahun 1987 PT. Perhutani (Persero) Unit III Jabar dan Banten mengembangkan kawasan Kawah Putih ini  menjadi sebuah objek wisata. Untuk tiket masuk areal objek wisata Kawah Putih, setiap orang dikenakan biaya Rp 10.000,00, (update harga tiket lihat keterangan di bawah) sudah termasuk premi asuransi. Objek wisata Kawah Putih dibuka mulai pukul 07.00 dan tutup pada pukul 17.00, setiap hari Senin sampai dengan Minggu. Fasilitas bagi pengunjung di sekitar Kawah Putih sudah cukup memadai dengan adanya areal parkir, transportasi transit menuju kawah, pusat informasi, mushala, dan warung-warung makanan.

Danau Kawah Putih kadang ditutupi halimun
Untuk menuju ke sana, pengunjung dari Jakarta dapat melewati tol Cipularang terus menuju pintu keluar tol Kopo menuju Soreang ke arah selatan ke kota Ciwidey. Sekitar 20 – 30 menit dari kota Ciwidey terlihat tanda masuk menuju gerbang masuk objek wisata Kawah Putih yang ada di sebelah kiri jalan. Untuk menuju Kawah Putih dari gerbang masuk kawasan objek wisata Kawah Putih disarankan menggunakan kendaraan, jangan berjalan kaki karena jalan yang agak menanjak dan cukup jauh, yaitu sekitar 5,6 km atau sekitar 10 – 15 menit dengan kendaraan. Kendaraan pribadi dapat langung menuju tempat parkir luas yang tersedia tidak jauh dari kawah. Sementara pengunjung dengan rombongan besar yang menggunakan bis, atau transportasi umum dapat menggunakan kendaraan khusus yang ada di areal parkir dekat gerbang masuk untuk mencapai kawah dari pintu masuk. Kondisi jalan yang kecil dan menanjak tidak memungkinkan untuk dilalui kendaraan jenis bis besar maupun sedang.
Transportasi umum menuju Ciwidey dari Bandung dapat ditemui di Terminal Kebun Kalapa maupun Leuwi Panjang. Setelah sampai di Kota Ciwidey maka perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan angkutan pedesaan tujuan Situ Patengan. Angkutan pedesaan yang menuju Situ Patengan ini melintasi objek-objek wisata yang ada di kawasan Ciwidey yaitu Perkebunan Strawberry, Kawah Putih, Ranca Upas, & kolam renang air panas Cimanggu. Untuk dapat menjelajahi dan menikmati keindahan alam kawasan Ciwidey dan sekitarnya rasanya tidak cukup hanya satu hari.
© 2008-2010 arie saksono
Updated Harga Tiket Masuk dari pembaca:
Lihat komentar pengunjung di bawah ini:
Updated Tiket Masuk Kawah Putih per 12 Maret 2012:
Wisatawan Mancanegara: Rp. 30.000.
Wisatawan Nusantara : Rp. 15.000.
Ontang-anting : Rp. 10.000 PP (5.000 x 2)
Mobil sampai ke atas : Rp. 150.000.
Parkir Bus : Rp. 25.000.

  
yogi says:
September 19, 2010 at 18:32
update tarif masuk kawah putih hari ini (19/10/10):
orang: Rp.   26.000 (termasuk ongkos kendaraan ke atas-PP)
mobil: Rp. 150.000 (minibus)-sampai ke atas
Oman mengatakan:
Mei 18, 2010 pukul 18:28
Info kemarin tgl 17 Mei 2010.
Tiket masuk update 8 Mei 2010 (dibuka kembali)
Wisnus Rp 25.000,- / orang. (termasuk angkutan ke atas kawah)
Wisman Rp 50.000,- / orang.
Bermobil 1 orang Rp 165.000,- / (man)Rp 190.000,-
Bermobil 2 orang Rp 180.000,- / (man)Rp 230.000,-
Bermobil 3 orang Rp 195.000,- / (man)Rp 270.000,-
dst.

Wisata Baturaden


Wisata Baturaden yang sangat indah bisa membuat pengunjung terpukai dalam keindahan Wisata Baturaden.disini saya berbagi sedikit tentang keindahan Baturaden

Baturaden adalah sebuah objek wisata alam yang terletak di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Baturaden terletak di sebelah utara kota Purwokerto tepat di lereng sebelah selatan Gunung Slamet. Karena letaknya di lereng gunung menjadikan kawasan ini memiliki hawa yang sejuk dan cenderung sangat dingin terutama di malam hari.






Baturaden dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun umum. Jarak dari kota Purwokerto sekitar 20 km dan dapat ditempuh dalam waktu 15 menit dengan lalu lintas yang tidak terlalu padat. Apabila ingin menggunakan kendaraan umum wisatawan dapat naik angkutan kota dari terminal di Purwokerto dan turun di terminal lokawisata Baturaden. Jika ingin lebih praktis wisatawan dapat menggunakan taksi. Jika memutuskan untuk menggunakan kendaraan pribadi, sebaiknya hati-hati karena jalan yang menanjak dengan kemiringan sekitar 30 derajat.

Objek wisata menarik yang terdapat di Baturaden antara lain :

Pancuran Pitu Baturaden
Pemandian air panas yang yang mengandung belerang. Dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit. Terletak di sebelah atas Pancuran Telu.

Pancuran Telu
Pemandian air panas yang yang mengandung belerang. Dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit. Terletak di sebelah bawah Pancuran Pitu.

Bumi Perkemahan
Merupakan camping ground yang sering dimanfaatkan oleh para pecinta alam dan penikmat kegiatan out bond. Pernah digunkan sebagai tempat penyelenggaraan Jambore Nasional Gerakan Pramuka se-Indonesia pada tahun 2001.

Kaloka Widya Mandala
Taman Kaloka Widya Mandala Baturraden atau Wisata Pendidikan Wanasuka Baturraden merupakan kebun binatang sekaligus sebagai tempat wisata edukasi yang diresmikan oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Banyumas H. Djoko Sudantoko pada tanggal 17 mei 1995. Tempat ini pernah mendapatkan prestasi sebagai Visit Indonesia Dekade 1991-2000 dalam Penobatan Anugerah Wisata Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta di Semarang pada tanggal 23 Agustus 1996.

Di Taman Kaloka Widya Mandala Baturraden terdapat berbagai macam binatang yang berasal dari dalam maupun dari luar negeri seperti dari Australia, Asia dan Belanda. Koleksinya meliputi: Sapi kaki lima, Kambing kaki tiga, Gajah, Beruk (Buing), Buaya Irian, Ular Sanca, Kaswari, Monyet, Landak, Iguana, Cendrawasih, Kelelawar, Ayam Kate, Ayam Mutiara, Orang Utan, Elang Bondol, Rusa. Di tempat ini juga terdapat Museum Satwa Langka, seperti: Harimau Sumatera, Beruang Madu, dan Macan Dahan.

Selain itu masih ada beberapa objek wisata menarik lain seperti :
• Curug Ceheng
• Wahana Wista Lembah Combong
• Combong Valley Paint Ball and War Games
• Telaga Sunyi

Tiket masuk kawasan Baturraden Rp. 5000 / orang, sedangkan kendaraan roda empat dikenakan biaya Rp. 4000.

Lawang Sewu


Lawang Sewu Semarang.Gedung Seribu Pintu Dan Seribu Hantu.Lawang Sewu merupakan sebuah bangunan kuno peninggalan jaman belanda yang dibangun pada 1904. Semula gedung ini untuk kantor pusat perusahaan kereta api (trem) penjajah Belanda atau Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij (NIS). Gedung tiga lantai bergaya art deco (1850-1940) ini karya arsitek Belanda ternama, Prof Jacob F Klinkhamer dan BJ Queendag. Lawang Sewu terletak di sisi timur Tugu Muda Semarang, atau di sudut jalan Pandanaran dan jalan Pemuda. Disebut Lawang Sewu (Seribu Pintu), ini dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak. Kenyataannya, pintu yang ada tidak sampai seribu. Bangunan ini memiliki banyak jendela tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu.

Foto Gallery Lawang Sewu Semarang:
Bangunan utama Lawang Sewu berupa tiga lantai bangunan yang memiliki dua sayap membentang ke bagian kanan dan kiri bagian. Jika pengunjung memasukkan bangunan utama, mereka akan menemukan tangga besar ke lantai dua. Di antara tangga ada kaca besar menunjukkan gambar dua wanita muda Belanda yang terbuat dari gelas. Semua struktur bangunan, pintu dan jendela mengadaptasi gaya arsitektur Belanda. Dengan segala keeksotisan dan keindahannya Lawang Sewu ini merupakan salah satu tempat yang indah untuk Pre Wedding.
Lawang Sewu Pasca Pemugaran:
Setelah cukup lama lawang sewu seperti tak terurus, akhirnya Lawang Sewu dilakukan pemugaran yang memakan waktu cukup lama, akhirnya selesai pada akhir Juni 2011 dan kembali dibuka untuk umum setelah pada tanggal 5 Juli 2011 diresmikan oleh Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono dan dilanjutkan dengan event Pameran Kriya Unggulan Nusantara yang menampilkan produk produk tradisional dari seluruh Nusantara. Berikut foto foto Lawang Sewu pasca pemugaran:
Lawang Sewu Pasca Restorasi
Sisi kanan Lawang Sewu
sisi belakang lawang sewu
seribu pintu lawang sewu

Dieng Plateau Wonosobo

Dieng name derived from Sanskrit language which is "di" means the place and "hyang" means Gods. Overall Dieng can be defined as a place of the Gods. While the residents said Dieng derived from the word "edi" which means beautiful in the Java language, and "aeng" meaning strange. In other words Dieng is a beautiful place with a lot of oddities.

Located at an altitude of 2000 meters above sea level, Dieng community should be grateful for the abundance of wealth which conferred upon their beautiful and exotic land. Candi Arjuna (Arjuna Temple) Complex which is the oldest Hindu temple in Java is still standing upright in the middle of whipping time and weather, as the evidence of the cultural heritage of an extraordinary wealth. Although some parts of the temple began to wear out with age, the worship of Shiva temple built in 809 AD is still stand sturdy giving the peaceful feeling in the midst of the natural silence of the mountains.

The cold weather has led to the unique style of dress of its people. Temperatures during the day ranged between 15-20 degrees Celsius while in the night between 10 degrees Celsius. In July and August temperatures can reach 0 degrees Celsius during the day and -10 degrees Celsius at night.

The residents are taking advantage of the cold air to maximize their farms. Their abundant land converted into fields for growing various vegetables and fruits. The main commodities are potatoes and cabbage. Carica, typical papaya of Dieng is turned into delicious meals that always hunted as typical souvenir of Dieng. Purwaceng, a wild grass that grows, turned into a nutritious drink to increase male masculinity. Speaking of culinary, a must try food of Dieng is the delicious Tempeh Kemul and the legendary Mie Ongklok Wonosobo.

Dieng is an active volcanic region and can be regarded as a giant volcano. Plains formed from volcanic crater that has died. Crater shape can be seen obviously from the plain with mountains cluster surrounding. Yet despite this volcano has been dead for centuries, some volcanic craters are still active until now. Among these is Kawah Sikidang (Sikidang Crater), which is always on the move and jumping like a "kidang" or deer.

The uniqueness of the formation process produced an exotic landscape. Telaga Warna (Colorful Lake) that reflects the color green, blue and purple and enchanting the beauty of sunrise from the summit of Gunung Sikunir (Mount Sikunir) is the places that should not be passed just like that.

The land trusted as the place of the God, mystical aura and myth still believed by many indigenous people of Dieng. One is the phenomenon of anak gimbal (dreadlocks kids). For some reasons many children in this region was suddenly turned into dreadlocked. They were born normal, just like the other children, but then got a sudden high fever and grew dreads on their heads. Most people believed that children are the decendent of "pepunden" or ancestral founder of Dieng. They are then have to go through a cut ritual, after their demand were granted by the parents. When the parents fail to comply, the dreads will grow again though it has been cut many times.
From Yogyakarta to Dieng

Dieng is located approximately 116 km from Yogyakarta. To get to the Dieng Plateau, you can use your own car or rental car directly to Dieng within 3.5 hours. For those of you who choose public transport, bus and travel (door to door minibus) are available to take you to reach Wonosobo. After that, the trip continued with a micro-bus to Dieng for about 1 hour. Natural scenery of green mountains along the road will pamper your eyes and eliminate the anxiety of going uphill road which constantly twisting.

Travel costs Yogyakarta - Dieng:

Yogyakarta - Wonosobo (by minibus): IDR 40,000
Wonosobo - Dieng (by microbus): IDR 8,000

Note:
Data obtained from the trip in October 2010. This page is not always updated and there is the possibility of price changes at any time.

Museum Kereta Api di Ambarawa


Berkunjung ke Museum Kereta Api di Ambarawa mengingatkan saya akan lagu di atas, lagu yang sering saya nyanyikan pada masa kecil, apalagi saat sedang melakukan perjalanan dengan kereta api.
Yah… museum kereta api di Ambarawa merupakan salah satu tujuan wisata di kota kecil ini.  Museum kereta api ini unik dan menarik karena  teknologinya yang diusung oleh museum  ini merupakan  teknologi kuno peninggalan penjajah Belanda yang masih menggunakan lokomotif uap.
Museum Kereta Api Ambarawa tidak menggunakan bangunan yang tertutup, gedung museum ini hanya berbentuk hanggar. Bangunan museum ini merupakan stasiun kereta api  lama yang dibangun pada tahun 1873. Saat ini stasiun yang telah dialihfungsikan menjadi museum pada tanggal 6 Oktober 1976   hanya melakukan kegiatan operasional untuk  lori kereta wisata.
Di halaman museum, sebelum kita masuk ke stasiun yang merupakan gedung museum ini terdapat sebuah lokomotif uap  tua yang sudah dicat  ulang dan terlihat rapi, apik dan menarik. Lokomotif tua ini berfungsi sebagai ikon Museum Kereta Api  Ambarawa.
Lokomotif tua yang berfungsi sebagai ikon museum
Halaman menuju gedung museum kereta api yang berbentuk hanggar
Saya mengunjungi museum kereta api di Ambarawa pada hari kerja dan saat itu sedang dilakukan perbaikan sehingga museum ini terlihat sepi. Namun di halaman parkir mobil terlihat sebuah bus dari salah satu instansi pemerintah dan ternyata saat itu sedang mengikuti wisata dengan menggunakan lori kereta.

Memasuki gedung museum, di depan loket penjualan karcis   yang bertuliskan Williem I terdapat potongan rel kereta beserta rodanya yang seakan-akan menyapa pengunjung dengan “selamat datang di museum kereta api, Ambarawa”. Sayapun menyempatkan berfoto sejenak di lokasi ini.
Gedung museum ini terlihat rapi dan apik mungkin karena baru saja dilakukan perawatan. Menyelusuri museum ini dari depan menuju ke bagian sebelah kanan gedung terlihat    beberapa lokomotif  tua yang dipajang dan  tertata rapi di halaman museum.
Lokomotif-lokomotif  tua ini  hanya menjadi benda pajangan saja,  karena sudah tidak pernah dipergunakan lagi. Fisik dari lokomotif tua ini  pada umumnya masih bagus dan terawat meskipun pada beberapa bagian dari lokomotif   tampak keropos karena termakan usia. Pengecatan ulang pada tubuh lokomotif tua ini ternyata mampu membawa nuansa segar dan membuat lokomotif ini terlihat menarik.
Deretan lokomotif tua di halaman museum
Ruang pameran di museum ini terbagi menjadi dua, bagian dalam gedung dan bagian halaman. Pada bagian halaman museum, kita dapat melihat  berbagai jenis lokomotif tua yang dijejerkan di halaman. Di sisi yang berseberangan dengan deretan lokomotif tua, terdapat dua jalur rel yang masih difungsikan untuk kegiatan  wisata kereta pada saat akhir pekan atau atas permintaan khusus.
Dari petugas yang kami jumpai saat itu diperoleh informasi bahwa total lokomotif tua yang dipajang di seluruh  halaman museum sebanyak 21 buah. Lokomotif-lokomotif ini rata-rata dibuat pada akhir abad ke 19 atau awal abad ke 20.  Lokomotif  di museum ini pada umumnya berteknologi kuno yang menggunakan bahan bakar kayu. Karena berteknologi kuno, maka kecepatan maksimal kereta ini pun  hanya sekitar 50 km/jam hingga 90 km/jam.

Kereta khusus wisata yang baru saja tiba di museum
Pada bagian dalam gedung, bangunan utama yang bernama Willem I merupakan ruang pameran berisi peralatan dan benda-benda perkeretaapian yang digunakan pada waktu beroperasinya stasiun tersebut pada tahun 1873 yang silam. Bentuk bangunannya tetap dipertahankan seperti aslinya  dengan tetap melakukan  perawatan  seperti  pengecatan ulang bangunan.
Pada ruang pameran ini kita dapat melihat aneka peralatan perkeretaapian pada jaman dahulu. Beraneka ragam onderdil kereta, telepon, mesin ketik, mesin pencetak tiket, potongan rel, hingga furnitur-furnitur yang digunakan pada  saat itu masih  terpajang dengan rapi di dalam Gedung Willem I ini. Peralatan yang berada di ruang pameran ini semuanya dalam keadaan terkunci, mungkin untuk menjaga keamanannya dari keisengan pengunjung.
Bagian-bagian dalam gedung ini terbagi-bagi menjadi beberapa ruangan seperti ruang masinis, ruang kepala stasiun, ruang staf,   ruang tunggu, ruang pamer  serta toilet yang masih menggunakan bahasa Belanda,  yaitu Dames untuk wanita dan Heren untuk pria. Loket tempat penjualan karcis pun  masih dipertahankan  utuh seperti aslinya. Terdapat dua buah loket yang masing-masing terletak di setiap ujung Gedung Willem I ini.

Gunun Slamet

Gunung Slamet Berada di barat laut + 30 km dari kota PurbalinggaJawa Tengah. Setiap tahun pada bulan Juni s/d September para pencinta alam datang untuk mendaki gunung. Pendakian dengan berjalan kaki mulai dari Gunung Malang Desa Serang dan Grumbul Alur Bambangan desa Kutabawa. Jarak dari Grumbul sampai ke puncak Gunung Slamet ditempuh selama 6 jam perjalanan kaki, sebagai petunjuk jalan adalah warga masyarakat atau hansip setempat. 

Dari Purbalingga sampai Grumbul Alur Bambangan dapat dicapai dengan kendaraan roda empat, dan disitu telah dibangun pondok pemuda untuk menampung para pendaki yang akan kepuncak gunung slamet. Adapun rute dari gunung malang sampai kepuncak melalui pos-pos pemberhentian: 

* Gunung Malang – Pondok Gembiring = 1 km 
* Pondok Gembiring – Pondok Walang = 0,5 km 
* Pondok Walang – Pondok Cemara = 0,5 km 
* Pondok Cemara – Samarantu = 1,5 km. Di Samarantu disediakan kopel peristirahatan sederhana 
* Samarantu – Sampang Rangkah = 0,75 km 
* Sampang Rangkah – Sampang Ketebon = 0,6 km 
* Sampang ketebon – Batur = 0,9 km 
* Batur – Sampang Jampang = 0,3 km 
* Sampang Jampang – Sampang Kredit = 0,6 km 
* Sampang Kredit – Plawangan = 0,5 km 
* Plawangan – Puncak = 1 km ( Melalui Gua Slamet )

Senin, 19 November 2012

Wisata Gua Lawa


Tempat wisata yang memamerkan keindahan alam yang sangat berkesan (Gua Lawa)Gua Lawa merupakan keajaiban alam yang mungkin satu-satunya di
Indonesia. Umumnya gua-gua yang ada di Indonesia terdiri dari batuan
kapur dan berada di lereng bukit, sehingga sering melahirkan stalagnit
dan stalagmit. Sedangkan Gua Lawa termasuk gua vulkanik yang terbentuk
dari lava pegunungan aktif yang meleleh dan mengalami pendinginan
beribu-ribu, bahkan berjuta-juta tahun.
 Proses pendinginan lava ini mengakibatkan batuannya keras dan kuat
dengan warna hitam tanpa menimbulkan stalagnit maupun stalagmit. Tebal
batuan bisa mencapai 50 meter, sehingga tahan terhadap guncangan.
Letaknya juga tidak di lereng bukit, tapi di bukit. Proses alami dari
gaya tarik bumi tidak mungkin terjadi di daerah kapur. Ciri-ciri gua
vulkanik antara lain terdapat lorong dan mata air yang terjadi secara
alami.
 Untuk menikmati keindahan Gua Lawa kita harus menuruni lubang tanah
yang menganga dan menelusuri lorong-lorong. Melewati jalan selebar satu
meter, kita akan menikmati kelembaban di dalam gua dan kesejukan mata
air yang selalu menetes dari dinding-dinding gua. Di setiap dua-tiga
puluh meter perjalanan menelusuri gua, kita bisa menengok ke atas dan
menyaksikan lubang tanah berdiameter lebar -- yang selama ini berfungsi
sebagai fentilasi gua. Lubang-lubang itu terbentuk dari proses alam,
bukan dibuat manusia.

 Semula terdapat 17 lubang. Belakangan dua lubang mengalami kerusakan
dan mulai menyempit dengan sendirinya. Di atas lubang-lubang itu, kini
dibuat atap permanen dari genteng berbentuk jamur. Dari jauh ia tampak
asri. Setelah menelusuri gua sepanjang 1,5 km, tentu kita akan merasa
capek. Tapi keajaiban-keajaiban yang bisa kita temukan di bumi
Purbalingga ini, akan segera mengusir rasa lelah. Apalagi untuk mereka
yang menyukai olahraga jalan sehat. Tidak hanya kesegaran tubuh yang
bisa didapat, tapi juga kesegaran pikiran dan jiwa.
 Ada sekitar 14 nama gua yang bisa kita temui dalam satu perjalanan di
Gua Lawa itu. Masing-masing gua mempunyai cerita dan legenda
tersendiri, yang tentu sangat menarik untuk didengarkan. Saat memasuki
pintu gua misalnya, kita bisa menyaksikan 'Gua Batu Semar'. Nama ini
diambil karena di dalam gua itu terdapat sebuah batu yang sangat mirip
dengan sosok Semar, seorang tokoh dalam jagat pewayangan. Ini adalah
batu alami yang sudah berada di tempat itu selama jutaan tahun silam.
BATU SEMAR
 Dengan satu kali kelokan, perjalanan akan mengantarkan kita di 'Gua
Dada Lawa'. Gua ini sangat indah karena di samping bentuknya seperti
dada kelelawar raksasa, juga memiliki kolam yang airnya sangat jernih
dan tidak pernah kering. Setelah meninggalkan Gua Dada Lawa, kita
memasuki satu lokasi yang memiliki tiga buah gua, yaitu 'Gua Pancuran
Slamet', 'Gua Sendang Slamet', dan 'Gua Sendang Drajat'. Kedua gua yang
disebut pertama memiliki pancuran air yang tak pernah kering. Konon,
siapa saja yang mencuci muka dengan air dari pancuran ini akan menjadi
awet muda dan memiliki selalu berseri-seri. Sementara 'Gua Sendang
Drajat' terdapat mata air yang diyakini mampu mendatangkan rezeki bagi
siapapun yang meminumnya.
PANCURAN SLAMET
 Lokasi obyek seluas 11 hektar dan berada di sisi timur Gunung Slamet
ini memang dilengkapi dengan fasilitas bermain anak-anak, taman
'kenangan' bagi remaja, dan panggung terbuka. Ada juga beberapa patung
badak dan kura-kura dengan ukuran raksasa. Beberapa tahun lalu, Gua
Lawa bahkan dilengkapi dengan sebuah kebun binatang mini yang menampung
sejumlah jenis satwa. Sekarang, pengunjung tak bisa lagi menyaksikan
berbagai satwa di sana.Di samping biaya pemeliharaan yang tinggi,
kurangnya rasa memiliki di kalangan warga juga menjadi kendala utama
untuk bisa mempertahankannya.
 Suasana teduh sangat terasa di lokasi bermain anak dan taman kenangan.
Banyak pohon pinus yang sudah mulai besar. Di samping untuk
kesejukan, pohon-pohon juga berfungsi menampung kadar air dalam tanah.
Gua Lawa berjarak sekitar 25 km di sisi utara pusat kota Purbalingga.
Bisa ditempuh selama satu jam dengan melewati jalan menanjak dan
berkelok. Untuk mencapai tempat yang indah itu, tersedia cukup banyak
kendaraan umum. Perjalanan juga bisa dilakukan dari kota Purwokerto
melewati wanawisata dengan rimbunan pepohonan. 

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls