Online

Rabu, 16 Mei 2012

Perceraian


Perceraian adalah di mana satu pasangan melepas ikatan pernikahan.perceraian sangat merugikan dan berdampak negativ pada anak-anaknya.karena perceraian adalah konflik yang tidak bisa di selesaikan secara musyawarah Pengertian Perceraian adalah cerai hidup antara pasangan suami istri sebagai akibat dari kegagalan mereka menjalankan obligasi peran masing-masing. Dalam hal ini perceraian dilihat sebagai akhir dari suatu ketidakstabilan perkawinan dimana pasangan suami istri kemudian hidup terpisah dan secara resmi diakui oleh hukum yang berlaku.

Perceraian merupakan terputusnya keluarga karena salah satu atau kedua pasangan memutuskan untuk saling meninggalkan sehingga mereka berhenti melakukan kewajibannya sebagai suami istri.

Pengertian Perceraian

Perceraian bagi anak adalah “tanda kematian” keutuhan keluarganya, rasanya separuh “diri” anak telah hilang, hidup tak akan sama lagi setelah orang tua mereka bercerai dan mereka harus menerima kesedihan dan perasaan kehilangan yang mendalam. Contohnya, anak harus memendam rasa rindu yang mendalam terhadap ayah/ibunya yang tiba-tiba tidak tinggal bersamanya lagi.

Dalam sosiologi, terdapat teori pertukaran yang melihat  perkawinan sebagai suatu proses pertukaran antara hak dan kewajiban serta penghargaan dan kehilangan yang terjadi diantara sepasang suami istri. Karena perkawinan merupakan proses integrasi dua individu yang hidup dan tinggal bersama, sementara latar belakang sosial-budaya, keinginan serta kebutuhan mereka berbeda, maka proses pertukaran dalam perkawinan ini harus senantiasa dirundingkan dan disepakati bersama.

Kondisi Menjelang Perceraian

Situasi dan kondisi menjelang perceraian yang diawali dengan proses negosiasi antara pasangan suami istri yang berakibat pasangan tersebut sudah tidak bisa lagi menghasilkan kesepakatan yang dapat memuaskan masing-masing pihak. Mereka seolah-olah tidak dapat lagi mencari jalan keluar yang baik bagi mereka berdua. Perasaan tersebut kemudian menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kedua belah pihak yang membuat hubungan antara suami istri menjadi semakin jauh.
Kondisi ini semakin menghilangan pujian serta penghargaan yang diberikan kepada suami istri padahal pujian dan penghargaan tersebut merupakan dukungan emosional yang sangat diperlukan dalam suatu perkawinan. Hal ini mengakibatkan hubungan suami istri semakin jauh dan memburuk.Sebuah pernikahan dibangun berdasarkan niatan luhur. Pernikahan dipilih karena dianggap dapat memberikan ketenangan bagi pasangan. Selain bertujuan melestarikan keturunan, pernikahan bertujuan untuk menjadi tahapan guna mendapatkan surga-Nya. Sebuah kenikmatan yang tak hanya diperoleh di akhirat karena sesungguhnya surga itu sudah dapat dinikmati di dunia. Namun, begitu banyak orang tak dapat menikmati surga dunia karena ketidakpahaman tentang surga dunia. Seperti apakah surga dunia itu?

Menurutku, surga dunia adalah kenikmatan yang didapat karena berasal dari perolehan yang dihalalkan Tuhan. Surga dunia dapat berbentuk kenikmatan seks pasangan sahnya. Selain itu, surga dunia juga dapat berbentuk kenikmatan materi. Kadang ada pula yang menjelaskan bahwa surga dunia adalah jabatan tinggi. Pendapat itu tidaklah salah. Namun, kiranya pendapat itu perlu diluruskan agar kelak pendapat itu bersinergi dengan tujuan hidup. Jika terjadi kesalahan pemahaman, kesalahan itu dapat berujung kepada perceraian. Sebuah tindakan yang teramat dibenci Tuhan meskipun dibolehkan.
Ya, semua orang pastilah tidak berkeinginan untuk bercerai. Pernikahan dibangun berdasarkan dua perbedaan. Ibarat minyak dengan air, kedua zat itu hanya dapat bertemu dan tidak dapat disatukan. Pernikahan adalah pertemuan dua perbedaan yang keduanya akan mengambil keuntungan satu sama lain. Jadi, bukanlah laki-laki semata yang berkeinginan untuk memuaskan dirinya, melainkan perempuan pun berkeinginan kuat untuk terpuaskan hasratnya. Mestinya pasangan memahami dan berusaha melaksanakan kewajiban dan tidak sekadar pandai menuntut hak. Teramat disayangkan, banyak pasangan sekadar mahir menuntut hak dan melalaikan kewajiban.
Jika perseteruan itu terus terjadi, neraka dunia telah diciptakannya. Sebuah malapetaka telah menghancurkan niatan luhur. Dan itu harus menjadi pelajaran seumur hidup baginya dan pelajaran gratis bagi kita. Tentunya jika kita berkenan untuk belajar dan memelajari kejadian itu. Sungguh di balik setiap peristiwa terkandung pelajaran berharga. Maka, marilah kita berusaha menelaah penyebab perceraian.
Menurutku, perceraian itu dapat terjadi karena kesalahan pada awal. Sebelum memutuskan untuk menikah, tentunya pasangan itu sudah mengetahui karakter masing-masing. Agaknya pengenalan karakter itu tidak dilakukan secara jujur. Karena berdasarkan kebohongan, begitu banyak pasangan terkagetkan karena pasangannya ternyata tak sebaik ketika semasa masih berpacaran. Ibarat membeli kucing di dalam karung.
Agama telah mengajarkan kita bahwa kebahagiaan akan didapat jika pasangan memenuhi empat persyaratan. Jika kita mampu menggunakan keempatnya sebagai dasar menjalani pernikahan, Allah sudah menjamin kebahagiaan. Dan keempatnya adalah: Kesatu, agama. Seyogyanya pasangan itu memiliki kesamaan keyakinan alias agama sejak tahap perkenalan. Pasangan itu tidak berasal dari perbedaan keyakinan agar pendidikan yang diberikan kepada keturunan alias anak dapat dilakukan secara menyeluruh. Jika pasangan itu berasal dari perbedaan keyakinan, tentunya anak akan berusaha mencari kebenaran keyakinan dari orang tuanya. Dan itu tentu menjadi sebuah kerugian karena seharusnya anak tinggal menjalani keyakinan dan tidak lagi berusaha mencari keyakinan.
Kedua, harta. Kita akan kenyang jika makan nasi dan akan kelaparan jika hanya makan kesetiaan. Sebuah ungkapan yang pernah saya dengar dari sahabat. Ternyata pendapat itu terasa benar. Harta alias materi memang teramat penting untuk menjadi pertimbangan guna mencari pasangan. Mungkin semasa pacaran, pasangan itu suka membual tentang kesetiaan. Namun, tiang rumah tangga ditegakkan dengan ekonomi dan tidak sekadar menggunakan ucapan setia. Harta perlu menjadi dasar untuk mencari pasangan.
Ketiga, keturunan. Hendaknya pasangan memelajari asal-usul pasangan. Perlu dipastikan bahwa pasangan itu berasal dari keluarga baik-baik. Air itu mengalir ke bawah. Jika di hulu air bening itu mengalir ke bawah, tentunya air itu tetap bening begitu sampai di hilir. Jika toh air itu berubah menjadi kotor, tentunya kotornya masih berkemugkinan untuk dijernihkan karena memang berasal dari hakikat bening. Demikian halnya tentang memilih pasangan. Tentu perlu dipastikan agar pasangan kita berasal dari keluarga yang baik.
Keempat, penampilan. Indahnya lukisan karena warna dan keelokan pelangi karena berbeda warna. Ungkapan itu mengandung pengertian bahwa semua orang tentu ingin memiliki keindahan. Namun, sesungguhnya keindahan itu justru terdapat dalam perbedaan. Karena kesalahan pemahaman dimaksud, banyak orang terkejut ketika memiliki pacar atau pasangan yang cantik atau ganteng. Pada awalnya, mereka begitu bangga karena mampu memikat hati dan memiliki pujaan hati. Sayangnya, kebanggaan itu kian memudar seiring pemahaman menyeluruh tentang tabiat sang pujaan. Kecantikan dan kegantengan wajah ternyata tidak dibarengi dengan kecantikan hati dan perilaku. Sungguh penampilan itu telah menipunya.
Jauh sebelum manusia berusaha mengeluarkan pendapat dan atau dalil-dalil yang berhubungan dengan pernikahan, agama telah memberikan nasihat bagi manusia. Agama telah memberikan arahan yang cukup jelas. Agama telah memberikan tuntunan tetapi manusia justru tidak berkenan dengan tuntunan. Bahkan, tuntunan itu telah bergeser menjadi tontonan dan tontonan justru menjadi tuntunan. Maka, wajarlah kini sering terjadi perceraian karena ajaran agama tak lagi diindahkan. Yuk, kita kembali memaknai agama kita.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls